Mengkaji ulang perintah Tuhan untuk menguasai dan menjaga bumi dalam perspektif Hak Asasi Bumi

Apr 18, 2024

Febrian Muda Ketua Presidium PMKRI Jakarta Barat

Agama kerap dituduh menjadi biang dari krisis ekologi.
Tuduhan ini di lemparkan oleh Lynn white.Jr sejarawan dari Amerika dan Arnold J. Toynbee, kritikus budaya dan sejarawan dari inggris.

Keistimewaan manusia sebagai citra atau gambaran yang menyerupai Allah dan mandat untuk menguasai bumi dengan segala isinya di tengarai sebagai akar dari krisis ekologi.
Fokus utama kritik Lynn White dan J. Toynbee adalah mandat berkuasa dalam status keistimewaan manusia.

Mandat ini terdapat dalam kitab kejadian 1:26, yang menyatakan bahwa “supaya mereka berkuasa (radah) atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Kata “radah” dalam bahasa ibrani memiliki makna beragam, mulai dari berkuasa, memerintah, mengalahkan dan menginjak-injak.

Bagaimana keistimewaan ini seharusnya di pahami?

Keistimewaan manusia dalam paham antroposentrisme berbeda dengan prinsip teosentrisme yang di ajarkan di dalam kitab suci.
Kitab suci menggambarkan keterkaitan antara keistimewaan manusia dan tanggung jawabnya sebagai ciptaan Allah, menetapkan batasan normatif untuk mandat kekuasaan manusia, serta menyoroti arogansi dalam menghadapi krisis ekologi.

Dalam konsep Hak Asasi Bumi yang di perkenalkan 1972 oleh Cristopher Stount yang merupakan ahli hukum Amerika Serikat dari Universitas Southern California artikelnya berjudul “should Trees have Standing”.

Hak Asasi Bumi adalah terminologi yang harus di perkenalkan lagi karena kurang populer.
Dalam konsep Hak asasi bumi Cristopher Stount berpendapat bahwa selain manusia yang punya hak asasi, Bumi juga mempunyai hak asasi yang sama dengan manusia, dalam konsep ini lebih menekankan kepada legalitas atau standing dalam artian satu pohon itu mempunyai hak asasi yang sama dengan manusia dan akan di buatkan hukumnya.

Hak Asasi Bumi sebtulnya adalah bentuk penghormatan manusia terhadap bumi, esensinya adalah untuk mencapai semua itu perlu ada keseimbangan dalam hal eksploitasi ekosistem dan Hak asasi bumi harus dimaknai sebagai kesadaran moral bersama.

Mahatma Ghandi pernah berkata bahwa “kehidupan manusia di bumi akan cukup untuk 7 Generasi tapi tidak cukup untuk 7 manusia yang serakah“. Perlunya keseimbangan dan penghormatan terhadap bumi sehingga kita perlu merefleksikan dampak krisis iklim akhir-akhir ini dan seruan terakhir untuk penghormatan terhadap bumi adalah “Pertobatan Ekologis”.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page